Tulisan saya sebelumnya tentang tips keamanan siber disusun dengan bantuan AI. Kali ini saya ingin lebih teknis: bagaimana AI membantu ketika server benar-benar terinfeksi, dan di mana saya sengaja tidak menyerahkan kendali.
Prinsip dasar
AI saya perlakukan sebagai analis junior yang cepat membaca, bukan operator yang memegang root. Artinya, AI menerima potongan data, bukan akses langsung ke server.

1. Kumpulkan artefak dulu
Sebelum bertanya ke AI, kumpulkan data secara read-only. Misalnya IP paling aktif dan file PHP yang paling sering menerima POST:
awk '{print $1}' access.log | sort | uniq -c | sort -rn | head -20
grep "POST" access.log | awk '{print $7}' | grep ".php" \
| sort | uniq -c | sort -rn | head -20
2. Minta AI membaca, bukan mengeksekusi
Potongan kode obfuscated bisa diberikan ke AI untuk dijelaskan cara kerjanya. Jika perlu decode, lakukan sendiri di lingkungan terpisah dan jangan pernah menjalankan hasilnya:
echo 'STRING_BASE64_DI_SINI' | base64 -d > hasil_decode.txt
Contoh prompt yang saya pakai:
Berikut potongan kode PHP yang ditemukan di server. Jelaskan
apa yang dilakukan kode ini, indikator yang bisa saya cari di
file lain, dan buatkan pola grep untuk mendeteksinya.
Jangan sarankan perintah yang menghapus file.

3. Verifikasi sebelum bertindak
AI bisa keliru atau terlalu yakin. Setiap pola grep yang disarankan saya uji dulu, dan setiap file yang akan dihapus saya periksa sendiri.
Yang tidak boleh diberikan ke AI
- Isi wp-config.php, config.inc.php, atau file .env.
- Password, token API, dan private key.
- Data pribadi pengguna dari database.
Dengan batasan ini, AI memangkas waktu analisis secara signifikan tanpa menambah risiko baru.
