I know that feel, Boss :-/

Beberarpa bulan yang lalu, saya masih bekerja sebagai Web Developer di sebuah Agen Travel di daerah sekitaran Senggigi. Tentunya sebagai seorang karyawan telah memiliki tugas dan fungsi yang jelas. Akan lebih baik jika tugas dan kewajiban kita di tempat kerja kita bisa terselesaikan sesuai dengan hasil dan waktu yang diharapkan. Lantas bagaimana jika tidak?

Pada waktu itu saya pribadi merasa terikat hanya sebatas pekerjaan yang harus saya lakukan. Pekerjaan hanya dipikirkan ketika dan atau dikerjakan hanya ketika waktu kerja tiba. Belum lagi jika dikurangi pada saat mendapat hambatan untuk masuk kantor semisal sakit, acara keluarga, bahkan kencan sekalipun dengan pasangan :p

Dari sudut pandang saya memang sepertinya biasa saja, tapi diakhir saya mengerti bahwa saya telah melakukan kesalahan besar. Kita semua tentu jarang berfikir kenapa ketika telat masuk kantor, tidak masuk kantor karena alasan yang tidak jelas, dan alasan – alasan lainnya pimpinan / atasan kita marah? atau paling tidak bersikat berbeda terhadap kita? karena memang hal tersebut sudah sewajarnya.

Sekarang kita tinjau dari sudut pandang pimpinan / atasan, dia memikirkan semua distribusi aktifitas yang akan dan memang seharusnya kita lakukan. Ibaratnya sebagai sebuah tim, satu saja anggota gagal maka seluruh anggota dalam satu tim pasti akan gagal. Saya yakin tidak ada pimpinan yang akan tersenyum bahagia jika mengetahui salah satu anggota tim (karyawan) nya yang gagal.

Saya kira sebagai sebuah tim sangat penting untun menumbuhkan rasa memiliki terhadap pekerjaan, tugas, dan fungsi nya dalam sebuah perusahaan untuk mencapai suatu tujuan.

Soo, kenapa saya tiba – tiba bicara ngawur seperti ini? 😀

karena saat tulisan ini sedang diketik saya sedang merasakaan posisi tersebut, menjadi pimpinan di perusahaan startup yang saya bangun bersama ke-4 orang rekan dan teman saya.

Tinggalkan Balasan